Ada cerita

Dia ini
Anaknya si kalong
Hasil pembuahan
Bersama si kelelawar

Masih kecil tak heran nakal
Terbang tak menentu

Menyebalkan

Dia itu
Kampret


Bersembunyi di balik manisnya senyuman itu
Sambil ia berjalan menuju pahitnya kehidupan
Mulai sadar dirinya bahwa semuanya semu
Tinggal mencoba mengerti akan kebimbangan

Tak usah lagi sembunyi di antara kegelisahan itu
Seperti sakit tertusuk duri namun kau tertawa
Sama dulu namun kini tak lagi begitu adanya
Apa yang diikrar jadilah ia terlantar kini

Keluarlah dari tempatmu bersembunyi
Biarkan seperti dahulu, apa adanya


Ucap syukurku pada Ilahi Rabbi
Yang telah menciptakan fajar sebagai awal dari sebuah mimpi

Maka merasa berdosalah diriku
Ketika tak ku perhatikan sebuah titik
nun jauh di ufuk timur itu

Lihatlah
dengan
seksama

Sinar mentari yang berangsur muncul dari tirai horison
Menebar mimpi bagi mereka yang mengejar

Akankah kuraih mimpi yang ditebarnya?


Ngung
ngung
ngung

Rasa-rasa
berdengung
ngung

Dalam jiwa
Mengikuti dan menghantui

Aku gelisah, tenangkan aku


Tuhan
Luasnya karunia yang Engkau berikan
Di kesunyian, tanpa harap

Ku hanya takut
Bagaimana aku
pertanggungjawabkan

Hanya takut tak bisa

Pada-Mu selalu
Ku berharap
Agar ku bisa

Tuhanku


Ambil selembar kertas
Ku coba untuk melipatnya
Jadilah sebuah pesawat kertas
Lemparkan! Terbangkan!

Jauh, dihembus angin
Hingga akhirnya mendarat
Sampai ke suatu tempat

Sampai di mana
Harapku berada

Angin masih bertiup sejuk
Dan ku rasakan sejuk


Aku telah berteriak, menjerit meronta
Tapi itu di dalam hati
Sembari ku teriak: KAPAN!

"Kapan waktu itu tiba?"

Tertunduk lesu kembali
Di antara semilir angin malam
Esok bagaikan akhir dari segalanya
Walaupun lusa adalah mula yang baru

Ku berteriak lagi: KENAPA?

"Kenapa Desember berganti Januari?"

Namun ku tahu jawabnya, walau
ku tak dapat membendung sedih di diri
Tapi aku katakan

Kewajibanku belum selesai

Selamat liburan


Kau tidak malu, pada kenyataannya
Ini hanyalah sesuatu yang dapat kau manfaatkan
untuk berlindung

Di antara orang-orang yang kau anggap mengganggu
Kau berdusta
“Mereka bukan bagian dariku”

Kau mengira dalam benak
Mereka mengatakan hal yang sama
“Dia bukan bagian dari kita”

Enyahlah!

Menjauhlah!

Tapi, sayang
Itu sama sekali bukan kenyataan
Buka penutup wajahmu
Jangan kau kenakan kembali
Buang jauh-jauh agar tak kembali

Perhatikanlah warna-warna yang ada
Berkeliling di sekitarmu

Merah, jingga, kuning, hijau
Maka kau lihat keindahan
Biru, nila, ungu
Maka kau lihat kenyataan

Warnamu bukanlah hitam
Warnamu bukanlah putih
Tapi yang kau kira selama ini adalah hitam dan putih

Merah dan biru dapat menjadi ungu
Kuning dan biru dapat menjadi hijau
Merah dan kuning dapat menjadi jingga
Hanya satu tanya: mengapa kau tak bisa?

Padahal kau bisa mencipta warna tersebut
Tapi kau enggan menciptanya
Masih ada waktu


Terbuka mata ini
Di sebuah ruangan
Tanpa jam dinding
Tapi kulihat
Ada ponsel di sisiku
Kunyalakan
Kutatap layar
bagian kanan atas

Benar dugaanku

Terlambat
Bangun
Ialah suatu yang terlihat
kala yang lain sunyi sembunyi

Ialah ia yang melebar kuncupnya 
bersamanya penuh harapan
yang tak kunjung datang 

Meratap

Seraya bertengadah tangan 

Ia, pintakan


Di mana segala
akan berpadu
Satu pinta dariku
pada penguasa alam

Bukanlah bahagia
sesuatu yang datang dari
kertas yang bisa lecek
Apa gerangan?

Ku sentuh bahagia
tapi ku rasa tidak

Ingin

Aku menunggu
Kapan aku merasa
aku sentuh bahagia?


Rumput tumbuh 
di tanah 
Disiram hujan maka 
ia tumbuh

Kau injak ia tak seberapa 
Ketika hujan kembali 
mengguyur
muka di kepala
Ditampar maka 
tertampar

Perih 
Ya, demikian